Rachman ray's Blog

How Service Can Multiply Your Productivity!

Posted in Tips, Uncategorized by rachmanrichman on October 7, 2010
How Service Can Multiply Your Productivity! 

Bagaimana Layanan dapat Meningkatkan Produktifitas dengan Berlipat Ganda

oleh Synergy Service Solution

In the end, you’re measured not by how much you undertake but by what you finally accomplish.” – Donald Trump

Seperti yang dikatakan oleh Donald Trump, di akhir hari, Anda dan perusahaan Anda akan diukur bukan dari banyaknya hal yang Anda lakukan, tetapi dari apa yang Anda capai dan selesaikan. Dan tentunya, menyelesaikannya dengan baik, bukan? Bukankah ini sebenarnya definisi dari produktivitas? Di masa sekarang dimana tantangan #1 dalam bisnis adalah gangguan (distractions), baik dari telepon, hand-phone, sms, blackberry, chatting, facebook, twitter maupun berbagai gosip yang sedang beredar, produktivitas rasanya seperti terancam. Ketika manusia masih bekerja di era industri, seperti bekerja di pabrik, produktifitas sangat mudah untuk diukur. Tetapi, di era informasi ini, kita telah menjadi knowledge workers – orang-orang yang bekerja dengan pengetahuan/informasi dan bukan memproduksi sesuatu – bagaimana caranya mengukur produktifitas? Lalu, apa hubungannya dengan layanan? Bagaimana layanan bisa meningkatkan produktifitas? Oh, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita tanyakan. Mari kita coba bahas satu persatu.

Definisi Produktifitas

“If you’re a leader, here’s where you need to start: Stop measuring your people by the hours they put in, and focus instead on the value they produce. Make that your primary measurement. Then encourage your people to intermittently renew during the day (and on weekends, and over vacations), so that when they’re working, they’re really working. That’s the path to true productivity.” – Tony Schwartz, president and CEO of The Energy Project.

Di era industri, produktivitas bisa diukur sebagai berikut: Produktivitas = Jumlah Output / Waktu Intinya adalah berapa ‘banyak’ hal yang bisa dicapai dan dilakukan dalam waktu tertentu. Sehingga sangat tergantung oleh kecepatan dan ketrampilan dari orang tersebut, terutama karena waktu yang kita miliki semua sama. Alexander Kjerulf, salah satu konsultan bisnis dunia pun mengatakan, paradigma kita pun kebanyakan masih terjebak di era industri, yaitu seperti ini:

 Lebih banyak meluangkan waktu untuk bekerja, lebih banyak yang bisa dicapai.

 Menambah orang di tim Anda, maka Anda bisa selesai lebih cepat.

 Produktivitas itu sebenarnya konstan dan mudah untuk dijadwal.

Di era informasi dan pengetahuan seperti saat ini, paradigma tersebut tidak hanya salah tetapi juga sangat membahayakan. Bagaimana mendefinisikan produktifitas? Steve Pavlina, salah satu personal development guru, mendefinisikannya sebagai berikut: Produktivitas = Nilai / Waktu Berdasarkan hal tersebut, ada 2 (dua) faktor untuk meningkatkan produktifitas: (i) meningkatkan nilai yang diberikan dan/atau (ii) mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memberikan nilai tersebut.

Aha! Jadi saat ini, produktivitas bukan berarti berapa cepat dan banyak Anda melakukan atau menghasilkan sesuatu, tetapi berapa besar NILAI yang Anda berikan dan tergantung dari ketrampilan untuk memberikan NILAI tersebut dengan waktu yang lebih cepat. Kecepatan bisa dihasilkan dari latihan dan kebiasaan, tetapi nilai? Lalu, Steve Pavilina juga mengatakan bahwa Nilai bisa diukur sebagai berikut: Nilai = Impact x Endurance x Essence x Volume

Impact (Dampak)– Siapa saja yang menerima dan merasakan hal yang Anda ciptakan ini (produk/jasa)? 1 orang, 2 orang, 10 orang? Semakin banyak yang menerima dan merasakan nilai maka impact pun akan semakin besar.

Endurance (Daya Tahan) – Berapa lama nilai ini dirasakan oleh penerimanya? 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 10 tahun, selama-lamanya? Apakah nilai yang Anda berikan terus diingat atau mudah dilupakan?

Essence (Esensi) – Apa esensi/pokok/intisari dari hal yang Anda ciptakan? Seberapa besar orang lain menghargai hal yang Anda ciptakan? Bermanfaatkah untuk orang lain? Seberapa unikkah hal tersebut? Apakah Anda satu-satunya yang bisa menciptkannya atau banyak saingan? Berapa harga yang Anda berikan kepada ciptaan tersebut?

Volume (Jumlah) – Dan yang terakhir, berapa banyak yang Anda ‘produksi’ dalam jangka waktu tertentu?

Oh, oh, oh.. ketika Anda membaca kata ‘nilai’, ‘pengaruh’, ‘daya tahan’ dan ‘esensi’, apakah Anda langsung terpikirkan tentang layanan? Hmm, bukankah itu sebenarnya layanan? Sudah mulai terlihat hubungan antara produktivitas dan layanan?

5 PENGETAHUAN BARU TENTANG PRODUKTIVITAS

Alexander Kjerulf juga memberikan 5 pengetahuan baru tentang produktivitas:

1. Produktivitas akan mengalami perbedaan dari hari ke hari. Ini normal.

Di era Industri, produksi dan output bisa dijadwalkan dengan mudah. Contohnya, kalau Anda tahu besok pabrik buka selama X jam, maka Anda akan memproduksi Y produk. Tetapi untuk knowledge workers, kita tidak pernah tahu di hari sebelumnya bila besok:

 Anda akan memiliki ide yang sangat luar biasa yang akan memotong waktu pekerjaan untuk diri Anda dan tim Anda selama seminggu.

 Anda akan bekerja sangat padat selama 12 jam.

 Atau, duduk di depan komputer selama 8 jam bengong.

 Menemukan sebuah kesalahan/krisis yang membutuhkan berhari-hari untuk mengatasinya.

Variasi ini normal, walaupun bisa menjadi sedikit frustrasi 😉 Tetapi, ini juga memberitahukan Anda bahwa Anda sebaiknya tidak menilai produktivitas Anda dari banyaknya hasil yang Anda capai setiap harinya, tetapi dari hasil rata-rata dalam jangka waktu beberapa hari.

2. Bekerja lebih banyak jam, lebih sedikit yang diselesaikan.

Oh ya? Setiap kali Anda merasa Anda merasa harus lembur untuk catch up – mengejar ketinggalan Anda, jangan! Ingat hal-hal ini:

 Kesalahan meningkat sebanyak 10% setelah bekerja 8 jam dan 28% setelah bekerja 10 jam.

 Produktivitas menurun setengahnya setelah 8 jam bekerja.

Apa yang terjadi? Biaya untuk lembur menjadi tidak efektif karena membutuhkan 2 kali lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan yang sama.

**Anda bisa mempelajarinya lebih lanjut di sini http://www.ewin.com/arch/overwk.htm

3. Bekerja lebih keras berarti menyelesaikan lebih sedikit.

Di era Industri, meningkatkan usaha berarti meningkatkan produktivitas. Sayangnya ini tidak bisa disamakan di masa sekarang. Anda tidak bisa memaksakan kreatifitas, pengucapan yang indah, penulisan yang menarik, cara berpikir yang jernih ataupun belajar dengan cepat. Malah, bekerja lebih keras malah membalikkan efeknya sehingga lebih sedikit yang bisa diproduksi. Oh, jadi cara bekerjanya bagaimana? Nanti kita bahas ya.

4. Menunda bisa menjadi sesuatu hal yang baik.

Ketika Anda memiliki to-do-list A, B, C, D, E, banyak yang mengatakan kita harus melakukannya sesuai dengan prioritas urgensi. Sayangnya knowledge workers tidak bekerja seperti itu. Terkadang kita sedang mood untuk melakukan A karena mudah dan lebih menyenangkan. Terkadang juga A sangat tidak menyenangkan dan untuk memaksakan diri Anda untuk mengerjakannya rasanya seperti ingin memotong tangan sendiri. Anda tetap harus menyelesaikannya, hanya Anda harus menjadi sangat pandai dalam menjadwalkan waktu, rileks dan istirahat, dibandingkan memaksa diri Anda melakukan sesuatu ketika Anda sedang lelah, penat, sedih maupun emosi. Dan yang terakhir… dan yang terpenting adalah…

5. Happiness is the ultimate productivity enhancer!

Kebahagiaan adalah pemerkuat produktivitas yang terbaik. Apa? KEBAHAGIAAN? Yes! “Penelitian menunjukkan secara konsisten bahwa perusahaan yang bahagia jauh lebih produktif, kreatif dan fokus kepada layanan dibandingkan perusahaan lain. Artinya, perusahaan yang bahagia akan terus mengalahkan perusahaan-perusahaan yang tidak happy. Masa depan bisnis adalah happy! Ini tidak dapat dipungkiri lagi!” – Alexander Kjerulf Aha! Jadi kuncinya ada di… kebahagiaan.

Source: http://positivesharing.com/2010/02/5-new-rules-of-productivity/

Buktinya Apa?

Berbagai penelitian sudah dilakukan dalam hubungan antara kebahagiaan dan produktifitas. Salah satu yang paling sederhana dilakukan oleh Daniel Sgroi. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Sgroi, hanya dengan menonton video komedi selama 10 menit sebelum melakukan beberapa aktifitas yang bisa diukur produktifitasnya, terbukti bahwa produktifitas bisa meningkat sebanyak 10%. Daniel Sgroi melakukan penelitiannya terhadap 276 pelajar dari University of Warwick. Cara mengukur produktifitasnya adalah melakukan problem matematika sederhana, sebanyak-banyaknya dalam waktu 10 menit, lalu matematika level GMAT selama 5 menit.

Berdasarkan survey, bagi orang-orang yang menonton video komedi, tingkat kebahagiannya meningkat sebanyak 0.99 poin dalam skala 1-7 (Figur 1). Dan mereka yang menonton video komedi, tingkat produktifitasnyapun meningkat sebanyak 10.49%.

Source: http://www.voxeu.org/index.php?q=node/5343

Apa Manfaat Kebahagiaan di Tempat Kerja?

“It’s not just only business it is the process how we could bring happiness for all of customer and people around us.” – Tony Hsieh

Berikut adalah 10 alasan mengapa kebahagiaan di tempat kerja adalah alasan nomor 1 untuk meningkatkan produktifitas, seperti yang dijabarkan oleh Alexander Kjerulf:

1: Orang-orang yang bahagia bekerja lebih baik dengan orang lain

Mereka akan lebih menyenangkan dalam bergaul dan tentunya akan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Ini akhirnya:

 Kerjasama yang lebih baik

 Hubungan yang lebih baik dengan bawahan (bila manager/supervisor)

 Pelanggan yang lebih puas (bila di bidang jasa)

 Meningkatnya penjualan (bila di bidang penjualan)

2: Orang-orang yang bahagia lebih kreatif

Ketika produktifitas perusahaan Anda sangat tergantung dengan adanya ide-ide baru, orang-orang di perusahaan Anda harus bahagia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Teresa Amabile, ia mengatakan “ketika orang-orang dalam mood yang baik di hari apapun, mereka akan lebih memiliki ide-ide yang kreatif hari itu dan hari keesokannya.” Sepertinya ada proses cognitive yang terjadi ketika orang merasakan rasa senang yang menjadikannya lebih fleksibel, lebih lancar berbicara dan memiliki pikiran-pikiran yang original. Lalu kemudian masih terbawa ke keesokan harinya.

3: Orang-orang yang bahagia memperbaiki masalah dan bukan mengeluh tentang masalah

Ketika Anda tidak bahagia, maka kerikil pun terlihat seperti gunung. Menjadi sangat sulit untuk memperbaiki masalah atau menemukan solusi-solusinya tanpa mengeluh terlebih dahulu. Ketika Anda bahagia di tempat kerja – tidak ada pilihan lain tetapi langsung mencari jalan keluarnya.

4: Orang-orang yang bahagia memiliki lebih banyak energi

Orang-orang yang bahagia memiliki lebih banyak energi dan tentunya lebih efisien dalam melakukan segala hal.

5: Orang-orang yang bahagia lebih optimis

Orang-orang yang bahagia memiliki cara pandang yang lebih positif dan optimis. Penelitan pun menemukan (terutama penelitian oleh Martin Seligman di bidang positive psychology) bahwa orang-orang yang optimis jauh lebih sukses dan produktif. Seperti yang dikatakan “ketika Anda percaya bahwa Anda bisa atau tidak bisa, Anda benar!”

6: Orang-orang yang bahagia lebih termotivasi

Motivasi yang rendah berarti produktifitas yang rendah. Dan satu-satunya cara untuk termotivasi secara konsisten adalah dengan menjadi bahagia. Dan ini sebabnya motivasi dengan memberikan uang/makanan/hadiah tidak memiliki dampak yang besar dan lama.

7: Orang-orang yang bahagia tidak sering sakit

Sakit adalah pembunuh produktifitas. Dan ketika Anda tidak bahagia terutama menikmati pekerjaan Anda, maka Anda akan lebih mudah terkena penyakit, termasuk maag, kanker, diabetes dan jantung. Anda pun akan lebih cepat stres dan lelah.

8: Orang-orang yang bahagia belajar lebih cepat

Ketika Anda senang, bahagia dan rileks, maka Anda akan lebih terbuka untuk mempelajari hal-hal baru di tempat kerja dan akhirnya meningkatkan produktifitas.

9: Orang-orang yang bahagia tidak terlalu khawatir tentang membuat kesalahan – dan akhirnya melakukan kesalahan lebih sedikit

Ketika Anda bahagia, sekali-kali melakukan kesalahan tidak akan terlalu mengganggu Anda. Anda akan cepat bangkit dari kesalahan tersebut, belajar dari hal tersebut dan maju kembali. Anda juga akan lebih mudah mengakui kesalahan Anda ke orang lain – mengambil tanggung jawab atas hal tersebut, meminta maaf dan kemudian memperbaikinya. Sikap yang rileks ini menjadikan seseorang untuk melakukan lebih sedikit kesalahan dan lebih belajar dari kesalahan tersebut.

10: Orang-orang yang bahagia membuat keputusan yang lebih baik

Orang-orang yang tidak bahagia biasanya selalu dalam krisis. Fokus mereka menjadi lebih sempit dan sulit untuk melihat gambaran besarnya. Biasanya langsung masuk ke survival insticts dan keputusan yang ada hanya untuk jangka pendek. Kebalikannya, orang-orang yang bahagia lebih bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik dan juga lebih pandai dalam memprioritaskan pekerjaan mereka.

Source: http://positivesharing.com/2007/03/top-10-reasons-why-happiness-at-work-is-the-ultimate-productivity-booster/ Hubungan Antara Kebahagiaan dan Loyalitas Karyawan

Dalam sebuah penelitian yang menyangkut 139 perusahaan jasa, 5,500 orang di 15 negara, David Maister menemukan hubungan antara sikap karyawan dan kinerja finansial. Ia menemukan bahwa kinerja finansial – yang dihitung berdasarkan margin, profit per karyawan dan peningkatan profit dalam waktu 2 tahun – sangat berhubungan dengan kepuasan karyawan (‘generalised investments’). Yang manarik, ketika Charles Galunic dan John Weeks dari INSEAD (Financial Times Mastering People Management Series), juga menemukan hal yang sama. Bukti yang mereka temukan adalah, ketika perusahaan melakukan ‘generalised investment’ yaitu mengembangkan orang-orangnya seperti dalam hal kepemimpinan (leadership) dan pengembangan pribadi (personal growth) maka komitmen dan loyalitas karyawan bisa ditingkatkan. Sementara sudah semakin banyak pelatihan mengenai kepemimpinan, berapa banyak yang memusatkan kepada pengembangan pribadi? Baik dari bagaimana caranya menjadi bahagia? Meningkatkan percaya diri? Mengatasi rasa minder? Dsb.

Source: http://www.qi-leadership.com/2009/happy-staffs-means-greater-profits/ Apa sih sebenarnya Kebahagiaan itu?

“The purpose of our lives is to be happy. Happiness is not something ready made. It comes from your own actions.”- Dalai Lama Berbicara tentang kebahagiaan, apakah Anda sudah benar-benar memahami arti dan maknanya? Kita banyak menggunakan kata-kata seperti bahagia, nikmat, senang, tawa, kepuasan dan lain sebagainya. Apa perbedaaannya? Nikmat, senang, tawa, rasa puas itu bisa dinyalakan dan dimatikan, tetapi kebahagiaan itu selalu ada – walaupun kita sedang merasakan emosi-emosi yang lain. Happiness is a condition of my being – it stays with me while I am experiencing emotions. Paradigma yang salah tentang kebahagiaan adalah paradigma “Saya akan bahagia ketika _______”, seperti:

 Saya akan bahagia ketika saya punya pengasilan lebih besar

 Saya akan bahagia ketika saya tenar

 Saya akan bahagia ketika saya menemukan belahan jiwa

 Saya akan bahagia ketika saya memiliki lebih banyak teman

 Saya akan bahagia ketika saya lebih kurus

 Saya akan bahagia ketika saya tinggal di tempat lain

 Dll.

Jadi, ketika kita bahagia maka pikiran dan jiwa kita itu tenang. Bahwa kebahagiaan itu datang dari

dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita sendiri. Bahwa kita hidup bukan untuk kebahagiaan, tetapi hidup dari kebahagiaan. Ini mungkin sebabnya 94% masyarakat Indonesia itu memiliki depresi (baik ringan maupun berat), karena kita belum memahami dengan benar konsep dan arti dari kebahagiaan itu sendiri. Kita masih sangat bergantung dengan hal-hal eksternal untuk membuat kita bahagia. Ketika kita sadar bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam, maka kita memiliki kontrol dan tanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab untuk membuat diri kita sendiri bahagia menjadi sebuah aset dan kapasitas yang sangat besar nilainya baik untuk individu itu sendiri tetapi juga untuk organisasi tersebut. Bayangkan bagaimana kinerja perusahaan Anda ketika setiap orang dari staf Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri dan kemudian menjadi staf-staf yang bahagia?

Orang-orang yang ‘bahagia’ bukan orang-orang yang tidak memiliki masalah, tantangan maupun kesedihan, tetapi mereka memiliki cara pandang dan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang membuat hal-hal tersebut mudah diatasi dan tidak mengganggu kualitas hidupnya. Ketika mewawancarai 100 orang yang ‘bahagia tanpa alasan apapun’, Marci Schimoff menemukan bahwa walaupun orang tersebut menghadapi kanker, anaknya yang baru dibunuh, suami yang memiliki ketergantungan minuman keras ataupun lumpuh pun bisa ‘bahagia’. Tidak hanya itu, merekapun sangat berkontribusi dan bermanfaat bagi lingkungannya. Inilah ketika mereka menjadi manusia-manusia yang paling produktif, karena mereka tidak hanya hanya ‘bahagia’ tetapi juga fokus kepada suatu tujuan.

Melayani = Menyebarkan Budaya Bahagia

“Our business is to be happy.” – Dalai Lama Apa sih sebenarnya definisi melayani? Oh, Anda bisa mencarinya di berbagai buku, situs internet dan mewawancarai berbagai pakar layanan. Dan tentunya tidak ada definisi yang benar maupun salah. Ketika beberapa institusi atau orang masih mendefinisikannya dengan memberikan layanan yang terbaik untuk membuat pengalaman yang tak terlupakan sehingga seorang pelanggan itu puas, bukankah ini berarti bahwa layanan adalah bisnis atau usaha untuk membuat orang lain bahagia? Ketika melayani adalah membuat orang lain bahagia, coba lihat pertanyaan-pertanyaan berikut:

 Adakah satu cara saja untuk membuat orang lain bahagia?

 Bisakah sesuatu yang sangat sederhana, seperti sebuah senyum membuat orang lain bahagia?

 Bisakah kita membuat orang lain bahagia ketika kita sendiri tidak bahagia?

 Bisakah kita tulus ketika kita sendiri tidak bahagia?

Di dalam dunia layanan, kita selalu mendengar ‘melayani dengan setulus hati’. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa mengajarkan seseorang untuk tulus? Bagaimana mengajarkan atau mengharapkan seseorang untuk tersenyum tulus ketika hatinya sedang tidak tentram? Dan menurut Anda, bila tersenyum dengan tulus saja masih sulit, mampukah Ia mendengarkan orang lain, mengatasi masalah, membuat solusi, menjadi kreatif dan membuat orang lain puas dan senang?

Tetapi, ketika seseorang itu hatinya tenang dan tentram, bukankah otomatis Ia akan tersenyum dengan tulus, jauh lebih antusias dalam melakukan pekerjaan apapun dan kreatif dalam memecahkan masalah? Seperti kata Dalai Lama, “Bisnis kita adalah untuk menjadi bahagia.” Melayani saat ini bukan saja sekedar ketrampilan dan pengetahuan tentang bagaimana melayani, seperti senyum, sapa dan salam saja. Tetapi, melayani adalah komitmen untuk menjadikan diri sendiri bahagia terlebih dahulu dan kemudian menyebarkannya kepada lingkungan dan dunia. Baru setelah itu, berbagai ketrampilan dan pengetahuan bisa dipupuk dengan lebih efektif dan efisien. Komitmen ini yaitu menjadikan ‘bahagia’ sebagai kebiasaan atau gaya hidup kita sehari-hari, menjadikannya budaya. Karena ‘bahagia’ seperti ‘layanan’ adalah sebuah sikap dan ketrampilan hidup; ketika kita tidak mengaplikasikannya setiap hari dan menjadikannya kebiasaaan dan budaya dalam aktifitas sehari-hari, maka tidak bisa menggantikan kebiasaan-kebiasaan lama kita yang tidak mendukung kualitas hidup yang terbaik. Di Synergy, definisi melayani yang kami sebarkan adalah “bermanfaat untuk orang lain” – dimana seseorang hanya bisa mulai ‘bermanfaat bagi orang lain’ maupun lingkungannya ketika:

(i) Ia bahagia

(ii) Ia memiliki arah/tujuan mulia yang jelas (a sense of purpose).

Kombinasi ini adalah dimana seseorang menjadi sangat produktif. Karena, bila seseorang hanya bahagia tetapi tanpa arah, maka Ia akan menjadi puas dengan diri sendiri (complacent) dan tidak akan bergerak kemana-mana ataupun lebih cepat. Dan kebalikannya, bila memiliki arah/tujuan tetapi saat ini tidak bahagia, maka Ia akan memakan waktu yang lama untuk mencapai tujuan tersebut. Zappos sudah menjadi bukti yang terbaik untuk hal ini.

Zappos, sebuah perusahaan yang memiliki komitmen sangat tinggi terhadap layanan dan telah melewati berbagai tantangan dengan sukses pun mengatakannya dengan sangat baik dalam buku yang dituliskan oleh CEO-nya Tony Hsieh, yaitu “Delivering Happiness: A Path to Profits, Passion, and Purpose …” Anda bisa melihat dan merasakan sendiri budaya perusahaan dan keluarganya yang sangat ‘bahagia’ ini dari blognya di http://blogs.zappos.com/blogs/zappos-family dimana tagline-nya adalah “Blog, Fun & A Little Weird”. Mereka benar-benar membuat orang lain ingin menjadi bagian dari ‘keluarga’ tersebut.

Delivering Happiness

“If you’re interested in ‘balancing’ work and pleasure, stop trying to balance them. Instead make your work more pleasurable.” – Donald Trump

Berikut adalah hal-hal yang Anda bisa lakukan langsung dalam organisasi ataupun perusahaan Anda untuk mendukung lingkungan yang lebih bahagia, belajar dari berbagai perusahaan yang telah berhasil “deliver happiness”.

1. Practicing Gratitude (Rasa Berterima Kasih)

Salah satu perusahaan bernama Mind Valley, dalam usahanya untuk mengajak semua karyawannya untuk melatih rasa terima kasih setiap harinya membuat http://www.gratitudelog.com/agar setiap hari setiap orang bisa terus mengucapkan terimakasihnya terhadap apapun dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Apa yang Anda bisa lakukan di organisasi Anda?

2. Awesomeness Report

Setiap minggunya, ketika melakukan weekly-meeting, coba ubah energi dan fokus dari pertemuan tersebut. Kumpulkan semua berita-berita ataupun cerita-cerita sukses, menarik, paling kreatif dan paling menyenangkan dari minggu sebelumnya, baik tentang individu, proses, pelanggan, penjualan, pelatihan dan lain sebagainya. Bila ada masalah, jadikan berita itu menjadi berita yang positif karena sudah menemukan solusinya. Dengan seperti ini, setiap orang akan lebih termotivasi untuk datang ke pertemuan tersebut dan melaporkan hasilnya. Pertemuan mingguan diubah menjadi sebuah perayaan!

3. What you appreciate, appreciates!

Ketika Anda mulai menghargai sesuatu, maka sesuatu itu akan lebih menghargai Anda. Artinya apa? Kita sebagai orang Indonesia tidak mudah untuk menghargai ataupun memuji sesuatu hal, terlebih orang lain. Jadikan suatu kebiasaan di organisasi Anda untuk saling menghargai, baik melalui newsletter, mading, pertukaran post-it ataupun ketika pertemuan di pagi hari. Saling bertukar satu sama lain, dengan tulus tentunya:

 “Terima kasih ya, karena kamu _______ [hal positif yang terjadi].”

 “Saya bangga sama kamu/tim ini, karena ______ [hal positif yang terjadi].”

 “Unit kita adalah unit paling _____ [hal positif].”

 “Kalau tidak ada kamu, ___________”

 Dll.

4. The Fun Fund

Miliki ‘tabungan’ bersama di unit kerja/kantor untuk sebulan sekali melakukan aktifitas bersama yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, tetapi khusus untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama-sama – suatu perayaan. Banyak yang Anda bisa lakukan untuk mengumpulkan dana/tabungan ini – bisa sebagian dari profit ataupun hal-hal lainnya. Coba lah berkreatif!

5. Weekly Sharing & Training

“At Zappos we think it’s important for employees to grow both personally and professionally. It’s important to constantly challenge and strech your self, and not be stuck in a job where you don’t fell like you are growing or learning” – Tony Hsieh Percaya atau tidak, manusia itu selalu suka mendengarkan, mendapatkan dan merasakan hal-hal baru. Ini yang membuat dunianya menarik dan tidak membosankan. Tidak perlu lama, seminggu sekali selama 1 jam, dedikasikan jam tersebut sebagai tempat untuk saling berbagi dan belajar dari satu sama lain. Bisa sharing dari seseorang yang baru selesai menjalankan pelatihan, yang baru menyelesaikan buku yang menarik, ataupun informasi lainnya yang mereka dapatkan. Pastikan semua orang ikut berkontribusi, baik dari si supervisor/manager sampai ke seluruh staf. Jadikan sesi ini sesi yang menyenangkan dan penuh dengan kegembiraan! Apakah ini saja? Tentu saja tidak. Banyak hal-hal lainnya, tetapi hal-hal inilah yang paling mudah untuk Anda lakukan SEKARANG!

Change Your Service, Change Your Life!

In business, when things aren’t working it’s time to mix it up.” – The Apprentice, Donald Trump Berdasarkan filosofi, pengetahuan dan paradigma tersebut, Synergy menciptakan suatu program baru yang mengadopsi nilai-nilai terpenting untuk:

(i) Meningkatkan produktifitas

(ii) Meningkatkan layanan dan tentunya penjualan

(iii) Mengaplikasikan kebahagiaan dan menjadikannya kebiasaan dan budaya

sehingga siapapun bisa menyebarkan kebahagiaan (delivering happiness) dan menjadi pribadi-pribadi yang jauh lebih bahagia, efektif, produktif, kreatif dan bermanfaat bagi lingkungannya. Banyak sekali pelatihan layanan yang tidak memiliki dampak (impact) maupun daya tahan (sustainability) yang besar, karena hanya fokus terhadap satu, dua maupun tiga hari pelatihan tersebut. Kelemahannya antara lain:

 Kebanyakan difokuskan kepada ketrampilan dan pengetahuan layanan, bukan fondasi dan esensi dari melayani itu sendiri.

 Tidak mengubah kebiasaan-kebiasaan lama, karena untuk mengubah kebiasaan membutuhkan sedikitnya 21 hari.

 Memberikan berbagai motivasi yang sifatnya eksternal, bukan motivasi internal – motivasi yang paling konsisten dan bisa ditumbuhkan oleh masing-masing individu.

 Tidak adanya kelanjutan dari pelatihan ataupun coaching, sehingga para individu tidak bisa

merasakan perkembangan/perubahan yang dialaminya.

Ini yang membedakan pelatihan “Change Your Service, Change Your Life” dari Synergy:

Fokus ke ketrampilan utama – Sebelum melatih berbagai ketrampilan dan pengetahuan melayani yang lain, Synergy memfokuskan pada Ketrampilan #1 dalam melayani, yaitu: Menjadi Bahagia.

Praktek – Melatih kebiasaan-kebiasaan bahagia dan layanan dalam 2 hari pelatihan yang mudah diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari setelah pelatihan.

Sederhana (Simple) – Menggunakan metode dan bahasa yang mudah dimengerti, dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Rutin & Dinamis (Routine & Dynamic) – Adanya kelanjutan selama 30 hari setelah pelatihan untuk terus melatih dan membentuk kebiasaan-kebiasaan tersebut, seperti memiliki seorang Personal Trainer sendiri dalam sebuah program yang rutin dan dinamis (sehingga tidak membosankan), karena practice makes perfect!

Hasil yang cepat dan terukur (Quick & Measurable Results) – Hasilnya dapat dirasakan tidak hanya di dalam kelas pelatihan, tetapi juga setiap hari setelah selesainya pelatihan, sehingga setiap peserta lebih termotivasi untuk melakukannya kembali di keesokan harinya.

Apabila dokumen ini sifatnya telah menginformasikan Anda dan organisasi Anda tentang bagaimana memiliki organisasi yang jauh lebih bahagia dan produktif, program Change Your Service, Change Your Life akan membantu mulai mentransformasikan Anda dan organisasi Anda. Seperti kata Donald Trump, “Di sebuah bisnis, ketika sesuatu tidak berhasil, saatnya untuk mencoba sesuatu yang baru!” Jadi, apakah ini saatnya untuk mencoba sesuatu yang baru?

Pelajari lebih lanjut bagaimana Program: Change Your Service, Change Your Life dapat mentransformasikan Anda dan organisasi Anda untuk menjadi lebih bahagia, fokus dan produktif mulai dari sekarang juga di: http://www.synergy-id.com/changeyourservicelife/workshop

With love and to your happiness, Synergy Service Solution

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. abenk said, on October 11, 2010 at 23:25

    nice post….salam kenal….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: