Rachman ray's Blog

Terampil Mengelola Energi, Bukan Waktu

Posted in Books, Uncategorized by rachmanrichman on January 26, 2009
Terampil Mengelola Energi, Bukan Waktu
Oleh : Roni Yuzirman
Selasa, 28 Oktober 2008 17:10 WIB
.
  

 

“I wish I had 40 hours a day…”, tulis seorang teman dalam update statusnya di Facebook.

“I agree”, komentar yang lain.

Saya pun terpancing untuk mengomentarinya. Kebetulan beberapa waktu lalu saya membeli buku menarik yang mungkin bisa jadi solusi bagi mereka yang selalu kekurangan waktu untuk bekerja.

Saya sarankan kepada teman itu untuk membaca buku Terampil Mengelola Energi, Bukan Waktu karya Jim Loehr dan Tony Schwartz.

Di sampulnya, buku ini diberi stempel New York Times Bestseller. Apalagi ada endorsement dari Stephen Covey. Saya kira ini bukan buku sembarangan.

Akhirnya lembar demi lembar buku itu saya buka, padahal buku itu masih menunggu ‘waiting list’ untuk saya baca.

Energilah sumber daya paling berharga, bukan waktu, katanya.

Kita hidup di era digital. Ritme hidup kita tergesa-gesa, begitu cepat dan nonstop. Hari-hari kita seakan berkeping-keping dalam bit dan byte.

Kita lebih menghargai luasnya sesuatu ketimbang dalamnya, atau lebih memilih reaksi cepat ketimbang refleksi mendalam.

Kita melewati banyak hal, mencermati berbagai tujuan dalam tempo singkat tanpa memiliki waktu untuk tinggal lebih lama.

Kita terus berpacu tanpa henti sejenak untuk memikirkan apa sebenarnya yang kita inginkan atau ke mana kita hendak pergi.

Kita saling terhubung sekaligus kehilangan makna.

Kebanyakan dari kita berusaha berbuat yang terbaik. Namun, ketika tuntutan datang melampaui kapasitas kita, kita mulai membuat pilihan-pilihan yang kita anggap tepat untuk menjalani hari-hari kita meski memakan korban seiring berlalunya waktu.

Kita dapat bertahan hidup dengan tidur yang kurang, menyantap fast food sambil tergesa-gesa, minum kopi yang menyegarkan, dan mengkonsumsi pil tidur untuk menenangkan diri.

Ketika dihadapkan pada tuntutan kerja yang datang tanpa henti, kita menjadi cepat tersinggung dan muda marah.

Yang ditulis di atas adalah benar adanya. Menjadi fenomena perkotaan dengan masyarakatnya yang super sibuk mengejar apa pun.

Pergi ke Bandung, berlibur ke Puncak adalah bentuk pelariannya. Setelah itu kembali suntuk dengan ritual kejar mengejar setiap hari.

Harus ada yang diubah, menurut saya. Nah, buku ini membawa paradigma baru. Bahwa kita tidak bisa mengandalkan kepada pengelolaan waktu saja. Waktu terbatas 24 jam. Semua orang punya jumlah yang sama.

Energilah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu. Anda bakal berkinerja baik, sehat dan bahagia bila anda terampil mengelola energi anda.

Bagaimana caranya?

Penulis menawarkan paradigma baru The Power of Full Engagement:

Paradigma lama: mengelola waktu. Paradigma baru: mengelola energi.

Menghindari stres, mejadi menghadapi stres.

Dulu hidup bak lari maraton, sekarang hidup adalah serangkaian lari jarak pendek.

Dulu masa istirahat adalah masa yang sia-sia, sekarang masa istirahat justru merupakan masa yang produktif.

Kinerja tinggi tersulut oleh penghargaan. Itu dulu. Sekarang kinerja tinggi tersulut oleh tujuan.

Kalau dulu kita diminta untuk selalu berpikir positif, sekarang kita diminta untuk terlibat secara penuh, full engagement.

Buku yang menarik.

Saya mau lanjutkan dulu membacanya. Buku ini akan saya satukan dengan kelompok buku sejenis dari Stephen Covey (Seven Habits), Richard Koch (80/20 Principles series), Carl Honore (In Praise of Slow), Tim Ferris (The Four Hours Workweek), dll.

Salam FUUUNtastic!

 

Advertisements